Jelajahi Surat
1
Al-Fatihah
7 ayat
الفاتحة
2
Al-Baqarah
286 ayat
البقرة
3
Ali 'Imran
200 ayat
اٰل عمران
4
An-Nisa'
176 ayat
النساۤء
5
Al-Ma'idah
120 ayat
الماۤئدة
6
Al-An'am
165 ayat
الانعام
7
Al-A'raf
206 ayat
الاعراف
8
Al-Anfal
75 ayat
الانفال
9
At-Taubah
129 ayat
التوبة
10
Yunus
109 ayat
يونس
11
Hud
123 ayat
هود
12
Yusuf
111 ayat
يوسف
13
Ar-Ra'd
43 ayat
الرّعد
14
Ibrahim
52 ayat
ابرٰهيم
15
Al-Hijr
99 ayat
الحجر
16
An-Nahl
128 ayat
النحل
17
Al-Isra'
111 ayat
الاسراۤء
18
Al-Kahf
110 ayat
الكهف
19
Maryam
98 ayat
مريم
20
Taha
135 ayat
طٰهٰ
21
Al-Anbiya'
112 ayat
الانبياۤء
22
Al-Hajj
78 ayat
الحج
23
Al-Mu'minun
118 ayat
المؤمنون
24
An-Nur
64 ayat
النّور
25
Al-Furqan
77 ayat
الفرقان
26
Asy-Syu'ara'
227 ayat
الشعراۤء
27
An-Naml
93 ayat
النمل
28
Al-Qasas
88 ayat
القصص
29
Al-'Ankabut
69 ayat
العنكبوت
30
Ar-Rum
60 ayat
الرّوم
31
Luqman
34 ayat
لقمٰن
32
As-Sajdah
30 ayat
السّجدة
33
Al-Ahzab
73 ayat
الاحزاب
34
Saba'
54 ayat
سبأ
35
Fatir
45 ayat
فاطر
36
Yasin
83 ayat
يٰسۤ
37
As-Saffat
182 ayat
الصّٰۤفّٰت
38
Sad
88 ayat
ص
39
Az-Zumar
75 ayat
الزمر
40
Ghafir
85 ayat
غافر
41
Fussilat
54 ayat
فصّلت
42
Asy-Syura
53 ayat
الشورى
43
Az-Zukhruf
89 ayat
الزخرف
44
Ad-Dukhan
59 ayat
الدخان
45
Al-Jasiyah
37 ayat
الجاثية
46
Al-Ahqaf
35 ayat
الاحقاف
47
Muhammad
38 ayat
محمّد
48
Al-Fath
29 ayat
الفتح
49
Al-Hujurat
18 ayat
الحجرٰت
50
Qaf
45 ayat
ق
51
Az-Zariyat
60 ayat
الذّٰريٰت
52
At-Tur
49 ayat
الطور
53
An-Najm
62 ayat
النجم
54
Al-Qamar
55 ayat
القمر
55
Ar-Rahman
78 ayat
الرحمن
56
Al-Waqi'ah
96 ayat
الواقعة
57
Al-Hadid
29 ayat
الحديد
58
Al-Mujadilah
22 ayat
المجادلة
59
Al-Hasyr
24 ayat
الحشر
60
Al-Mumtahanah
13 ayat
الممتحنة
61
As-Saff
14 ayat
الصّفّ
62
Al-Jumu'ah
11 ayat
الجمعة
63
Al-Munafiqun
11 ayat
المنٰفقون
64
At-Tagabun
18 ayat
التغابن
65
At-Talaq
12 ayat
الطلاق
66
At-Tahrim
12 ayat
التحريم
67
Al-Mulk
30 ayat
الملك
68
Al-Qalam
52 ayat
القلم
69
Al-Haqqah
52 ayat
الحاۤقّة
70
Al-Ma'arij
44 ayat
المعارج
71
Nuh
28 ayat
نوح
72
Al-Jinn
28 ayat
الجن
73
Al-Muzzammil
20 ayat
المزّمّل
74
Al-Muddassir
56 ayat
المدّثّر
75
Al-Qiyamah
40 ayat
القيٰمة
76
Al-Insan
31 ayat
الانسان
77
Al-Mursalat
50 ayat
المرسلٰت
78
An-Naba'
40 ayat
النبأ
79
An-Nazi'at
46 ayat
النّٰزعٰت
80
'Abasa
42 ayat
عبس
81
At-Takwir
29 ayat
التكوير
82
Al-Infitar
19 ayat
الانفطار
83
Al-Mutaffifin
36 ayat
المطفّفين
84
Al-Insyiqaq
25 ayat
الانشقاق
85
Al-Buruj
22 ayat
البروج
86
At-Tariq
17 ayat
الطارق
87
Al-A'la
19 ayat
الاعلى
88
Al-Gasyiyah
26 ayat
الغاشية
89
Al-Fajr
30 ayat
الفجر
90
Al-Balad
20 ayat
البلد
91
Asy-Syams
15 ayat
الشمس
92
Al-Lail
21 ayat
الّيل
93
Ad-Duha
11 ayat
الضحى
94
Al-Insyirah
8 ayat
الشرح
95
At-Tin
8 ayat
التين
96
Al-'Alaq
19 ayat
العلق
97
Al-Qadr
5 ayat
القدر
98
Al-Bayyinah
8 ayat
البيّنة
99
Az-Zalzalah
8 ayat
الزلزلة
100
Al-'Adiyat
11 ayat
العٰديٰت
101
Al-Qari'ah
11 ayat
القارعة
102
At-Takasur
8 ayat
التكاثر
103
Al-'Asr
3 ayat
العصر
104
Al-Humazah
9 ayat
الهمزة
105
Al-Fil
5 ayat
الفيل
106
Quraisy
4 ayat
قريش
107
Al-Ma'un
7 ayat
الماعون
108
Al-Kausar
3 ayat
الكوثر
109
Al-Kafirun
6 ayat
الكٰفرون
110
An-Nasr
3 ayat
النصر
111
Al-Lahab
5 ayat
اللهب
112
Al-Ikhlas
4 ayat
الاخلاص
113
Al-Falaq
5 ayat
الفلق
114
An-Nas
6 ayat
الناس
← Daftar Surat
Qari:

التكوير

At-Takwir

Mekah Penggulungan • 29 AYAT

1
اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْۖ

Iżasy-syamsu kuwwirat.

Apabila matahari digulung,

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa jika matahari telah digulung, telah padam cahayanya dan jatuh berantakan bersamaan dengan hancurnya alam semesta yang pernah didiami oleh makhluk-makhluk yang hidup di dunia, maka musnahlah segala alam karena berpindah kepada alam yang lain.
2
وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْۖ

Wa iżan-nujūmunkadarat.

apabila bintang-bintang berjatuhan,

📖 Baca Tafsir
Apabila bintang-bintang berjatuhan dan padam sekalian cahayanya.
3
وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْۖ

Wa iżal-jibālu suyyirat.

apabila gunung-gunung dihancurkan,

📖 Baca Tafsir
Dan apabila gunung-gunung dihancurkan setelah dicabut dari bumi, diterbangkan di angkasa ketika terjadinya gempa yang amat dahsyat sehingga gunung-gunung itu terlepas dari dasarnya dan dilemparkan di angkasa seperti awan yang ditiup angin laksana kapas. Untuk telaah ilmiah Surah at-Takwir/81: 1-3 ini, lihat pula telaah ilmiah Surah al-haqqah/69: 13-16 dan Surah al-Ma'arij/70: 8. Ketika terjadi proses ke arah Big Crunch itu, yaitu proses pemadatan atau penyusutan alam semesta, maka semua materi pecah kembali menjadi materi-materi fundamental seperti quark, elektron dan sebagainya. Gaya-gaya seperti gaya gravitasi, elektromagnetik, nuklir kuat dan nuklir lemah mulai menyatu kembali. Saat itulah benda-benda langit mulai kehilangan gaya-gaya gravitasinya, dan akibatnya terjadilah tabrakan-tabrakan dahsyat antar bintang, inilah gambaran 'bintang-bintang berjatuhan, karena kehilangan gaya-gaya gravitasinya. Matahari yang juga merupakan jenis bintang mengalami hal sama. Ketika benda-benda langit saling mendekat, kekuatan gravitasi bagian luar boleh jadi akan melebihi cengkeraman kekuatan plasma di dalam bintang-bintang itu (termasuk matahari). Akibatnya adalah volume matahari dan bintang-bintang yang lain akan memuai. Matahari akan menjadi lebih besar volumenya, namun tekanan internalnya berkurang, dan cukup untuk menghentikan energi yang menghasilkan reaksi perpaduan nuklirnya. Akibatnya sinar matahari (yang memuai itu) akan meredup menjadi merah. Ketika pengembangan volume matahari telah mencapai maksimum, maka matahari akan mengalami kontraksi dan volumenya akan menurun dan menurun terus, mengecil yang akhirnya menjadi bintik hitam yang super-padat (dwarf black hole atau bintik hitam kerdil). Inikah yang dimaksud dengan matahari digulung pada ayat 1 di atas? Benturan juga terjadi antar-planet, sehingga bumi berbenturan dengan planet-planet lainnya. Akibat peristiwa inilah terjadinya kehancuran gunung-gunung. Semua proses ini akan mengarah ke Big Crunch dan kembali menjadi singularity.
4
وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْۖ

Wa iżal-‘isyāru ‘uṭṭilat.

apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus),

📖 Baca Tafsir
Dan apabila unta-unta bunting yang termasuk benda paling dihargai oleh orang-orang Arab, ditinggalkan dan tidak dipedulikan oleh pemiliknya karena kedahsyatan hari Kiamat tersebut. Hal ini menggambarkan kedahsyatan hari Kiamat yang jika diperkirakan, jika ada seorang laki-laki mempunyai unta yang bunting tentu ditinggalkan karena terlalu sibuk memikirkan keselamatan dirinya sendiri.
5
وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْۖ

Wa iżal-wuḥūsy ḥusyirat.

apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,

📖 Baca Tafsir
Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan dan dimusnahkan.
6
وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْۖ

Wa iżal-biḥāru sujjirat.

apabila lautan dipanaskan,

📖 Baca Tafsir
Dan apabila lautan-lautan dijadikan meluap, sehingga menjadi satu, kemudian menyala dengan kobaran api yang tadinya terpendam di bawah bumi tersebut. Setelah Allah menerangkan beberapa peristiwa yang menjadi permulaan hancurnya alam semesta dan matinya semua makhluk yang berada di atasnya, maka Allah menjelaskan apa yang terjadi setelah itu tentang kebangkitan.
7
وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْۖ

Wa iżan-nufūsu zuwwijat.

apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh),

📖 Baca Tafsir
Dan apabila roh-roh dipertemukan kembali dengan tubuh untuk memasuki kehidupan di alam akhirat. Ayat ini mengandung isyarat bahwa roh-roh itu tetap utuh setelah mati dan pada hari Kiamat dikembalikan lagi pada badannya. Pendapat lain menyebutkan arti ayat ini dengan bertemunya kelompok orang-orang termasuk ashabul-yamin dengan kelompok ashabusy-syimal. Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa arti ayat ini adalah dipertemukannya roh orang-orang yang beriman dengan pasangan-pasangannya di surga dan roh orang-orang kafir dipertemukan dengan setan-setan pembantunya.
8
وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ

Wa iżal-mau'ūdatu su'ilat.

apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,

📖 Baca Tafsir
Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh? Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa bayi-bayi yang pernah dikubur hidup-hidup akan dihidupkan kembali di hadapan orang yang menguburkannya dan ditanya karena dosa apakah dia dibunuh. Jawaban pertanyaan ini memberikan kesan yang lebih dalam kepada si pembunuhnya karena bayi perempuan itu akan menjawab bahwa ia dikubur hidup-hidup tanpa dosa sama sekali, hanya karena orang tuanya takut dihinggapi kefakiran dan kemiskinan. Kebiasaan orang Arab pada zaman Jahiliah ini sangat di luar peri kemanusiaan. Di kalangan mereka ada yang tidak mengubur hidup-hidup anaknya yang perempuan, tetapi ia memberikan pekerjaan kepadanya dengan menggembalakan kambing di padang pasir dengan pakaian bulu dan membiarkan hidup dalam kesepian. Dan ada pula yang membiarkan anak perempuannya itu hidup sampai umur enam tahun kemudian ia berkata kepada ibunya, "Dandanilah anak ini dengan pakaian yang baik, karena akan dibawa ziarah mengunjungi bibinya." Sebelumnya ia telah menggali sebuah sumur di padang pasir. Setelah ia sampai dengan anak perempuannya itu di tepi sumur itu, lalu berkata, "Tengok, apa yang ada dalam sumur itu." Kemudian anak perempuan itu ditendang dari belakang dan setelah jatuh ke dalam sumur itu lalu ditimbun dan diratakan dengan tanah. Dan di antara mereka ada yang berbuat lebih kejam lagi daripada ini. Setelah datang agama Islam, maka kekejaman yang di luar peri kemanusiaan itu diganti dengan sikap yang penuh ramah dan kesayangan. Di antara alasan pembunuhan anak perempuan di masa Jahiliah adalah karena anak perempuan dianggap tidak punya nilai ekonomis yang bisa menguntungkan keluarga. Alasan lain adalah karena anak perempuan dianggap sangat lemah, sering menjadi korban pelecehan seksual atau karena perempuan dianggap sebagai penggoda laki-laki yang bisa membuat malu keluarga. Dalam Surah an-Nahl/16: 58, Allah menggambarkan seorang laki-laki yang mendapat kelahiran putrinya dengan wajah hitam karena menahan marah. Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. (an-Nahl/16: 58) Islam adalah agama yang menghormati perempuan, sama seperti menghormati laki-laki. Oleh sebab itu, Islam melarang pembunuhan bayi laki-laki maupun perempuan, baik karena kemiskinan atau karena takut miskin. Allah berfirman: Janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. (al-An'am/6: 151)
9
بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْۚ

Bi'ayyi żambin qutilat.

“Karena dosa apa dia dibunuh,”

📖 Baca Tafsir
Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh? Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa bayi-bayi yang pernah dikubur hidup-hidup akan dihidupkan kembali di hadapan orang yang menguburkannya dan ditanya karena dosa apakah dia dibunuh. Jawaban pertanyaan ini memberikan kesan yang lebih dalam kepada si pembunuhnya karena bayi perempuan itu akan menjawab bahwa ia dikubur hidup-hidup tanpa dosa sama sekali, hanya karena orang tuanya takut dihinggapi kefakiran dan kemiskinan. Kebiasaan orang Arab pada zaman Jahiliah ini sangat di luar peri kemanusiaan. Di kalangan mereka ada yang tidak mengubur hidup-hidup anaknya yang perempuan, tetapi ia memberikan pekerjaan kepadanya dengan menggembalakan kambing di padang pasir dengan pakaian bulu dan membiarkan hidup dalam kesepian. Dan ada pula yang membiarkan anak perempuannya itu hidup sampai umur enam tahun kemudian ia berkata kepada ibunya, "Dandanilah anak ini dengan pakaian yang baik, karena akan dibawa ziarah mengunjungi bibinya." Sebelumnya ia telah menggali sebuah sumur di padang pasir. Setelah ia sampai dengan anak perempuannya itu di tepi sumur itu, lalu berkata, "Tengok, apa yang ada dalam sumur itu." Kemudian anak perempuan itu ditendang dari belakang dan setelah jatuh ke dalam sumur itu lalu ditimbun dan diratakan dengan tanah. Dan di antara mereka ada yang berbuat lebih kejam lagi daripada ini. Setelah datang agama Islam, maka kekejaman yang di luar peri kemanusiaan itu diganti dengan sikap yang penuh ramah dan kesayangan. Di antara alasan pembunuhan anak perempuan di masa Jahiliah adalah karena anak perempuan dianggap tidak punya nilai ekonomis yang bisa menguntungkan keluarga. Alasan lain adalah karena anak perempuan dianggap sangat lemah, sering menjadi korban pelecehan seksual atau karena perempuan dianggap sebagai penggoda laki-laki yang bisa membuat malu keluarga. Dalam Surah an-Nahl/16: 58, Allah menggambarkan seorang laki-laki yang mendapat kelahiran putrinya dengan wajah hitam karena menahan marah. Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. (an-Nahl/16: 58) Islam adalah agama yang menghormati perempuan, sama seperti menghormati laki-laki. Oleh sebab itu, Islam melarang pembunuhan bayi laki-laki maupun perempuan, baik karena kemiskinan atau karena takut miskin. Allah berfirman: Janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. (al-An'am/6: 151)
10
وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْۖ

Wa iżaṣ-ṣuḥufu nusyirat.

apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar,

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat ini dijelaskan apabila catatan-catatan amal perbuatan manusia dibuka, maka mereka akan melihat kebajikan atau kejahatan yang mereka perbuat ketika di dunia. Mereka akan tercengang keheranan karena tidak menyangka semuanya tercatat rapi dan teliti. Allah berfirman: Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, "Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya," dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun. (al-Kahf/18: 49) Bagaimana bentuk kitab atau catatan amal perbuatan manusia itu di Padang Mahsyar tidak kita ketahui. Namun kalau manusia saja mampu menciptakan berbagai alat perekam yang begitu canggih dan teliti, kita percaya bahwa Allah Sang Pencipta manusia punya sistem dan cara untuk merekam perbuatan, perkataan, dan isi hati manusia dengan hasil yang lebih baik dari apa yang dapat dibuat manusia.
11
وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْۖ

Wa iżas-samā'u kusyiṭat.

apabila langit dilenyapkan,

📖 Baca Tafsir
Dan apabila langit dilenyapkan karena kehancuran planet-planet yang ada di dalamnya. Langit yang begitu luas dapat dilipat seperti melipat kertas. Firman Allah: (Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. (al-Anbiya'/21: 104)
12
وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْۖ

Wa iżal-jaḥīmu su‘‘irat.

apabila (neraka) Jahim dinyalakan,

📖 Baca Tafsir
Dan apabila neraka Jahim yang disediakan untuk menyiksa orang-orang kafir dan durhaka telah dinyalakan sehebat-hebatnya sehingga orang yang memasukinya merasa kesakitan yang paling dahsyat. Itulah azab yang diancamkan Allah kepada orang-orang yang mengingkari-Nya. Firman Allah: Sungguh, Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. (al-Insan/76: 4)
13
وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْۖ

Wa iżal-jannatu uzlifat.

dan apabila surga didekatkan,

📖 Baca Tafsir
Dan apabila surga didekatkan kepada orang-orang yang akan memasukinya yaitu orang-orang mukmin yang bertakwa. Ini adalah balasan atas jerih payah dan usaha mereka berjihad menegakkan agama Allah dan menjalankan perintah agama. Allah berfirman: Dan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. (asy-Syu'ara'/26: 90)
14
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْۗ

‘Alimat nafsum mā aḥḍarat.

setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.

📖 Baca Tafsir
Jika semua peristiwa-peristiwa yang disebutkan sebelum ayat ini telah terjadi, tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. Sebagian besar dari manusia ketika hidup di dunia tertipu oleh godaan setan. Mereka akan menjumpai amal perbuatan mereka pada hari Kiamat tidak diterima oleh Allah bahkan dijauhkan dari rahmat-Nya dan berada di bawah murka-Nya. Orang-orang yang amal perbuatannya diselubungi dengan ria, tidak mendapat faedah dari amalnya itu kecuali sekadar kepayahan dan kesulitan. Setiap orang wajib memandang kepada amal perbuatannya dengan kaca mata agama dan menimbangnya dengan timbangan yang benar, sebab Allah tidak menerima amal perbuatan melainkan yang muncul dari hati yang penuh dengan keimanan dan keikhlasan.
15
فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ

Falā uqsimu bil-khunnas(i).

Aku bersumpah demi bintang-bintang

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat-ayat ini, Allah bersumpah demi bintang-bintang yang beredar dan terbenam. Bintang-bintang itu semuanya tidak tampak oleh penglihatan pada siang hari, namun akan kelihatan bersinar pada malam hari. Allah bersumpah dengan bintang-bintang itu karena dalam keadaannya yang silih berganti, tidak tampak ketika siang dan bersinar pada malam hari, merupakan tanda atas kekuasaan Allah yang mengatur perjalanannya.
16
الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ

Al-jawāril-kunnas(i).

yang beredar lagi terbenam,

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat-ayat ini, Allah bersumpah demi bintang-bintang yang beredar dan terbenam. Bintang-bintang itu semuanya tidak tampak oleh penglihatan pada siang hari, namun akan kelihatan bersinar pada malam hari. Allah bersumpah dengan bintang-bintang itu karena dalam keadaannya yang silih berganti, tidak tampak ketika siang dan bersinar pada malam hari, merupakan tanda atas kekuasaan Allah yang mengatur perjalanannya.
17
وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ

Wal-laili iżā ‘as‘as(a).

demi malam apabila telah larut,

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat ini, Allah bersumpah demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya.
18
وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ

Waṣ-ṣubḥi iżā tanaffas(a).

demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing,

📖 Baca Tafsir
Kemudian dalam ayat ini Allah bersumpah demi subuh apabila fajar mulai menyingsing dan bersinar. Waktu subuh digunakan Allah dalam bersumpah karena waktu ini menimbulkan harapan yang menggembirakan bagi setiap manusia yang bangun pagi karena menghadapi hari yang baru. Saat itu mereka dapat menemukan hajat keperluan hidupnya mengganti yang hilang dan bersiap-siap untuk yang akan datang. Kemudian Allah menerangkan apa yang dijadikan objek sumpahnya itu, dengan firman-Nya pada ayat berikut ini.
19
اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ

Innahū laqaulu rasūlin karīm(in).

sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat-ayat ini, Allah menjelaskan objek sumpah yang disebutkan dalam ayat 15-18 di atas, yaitu sesungguhnya apa yang diberitahukan oleh Muhammad saw tentang peristiwa-peristiwa hari Kiamat bukanlah kata-kata seorang dukun atau isapan jempol. Akan tetapi, benar-benar wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril dari Tuhannya. Allah telah menyifati utusan yang membawa Al-Qur'an tersebut, yaitu Malaikat Jibril, dengan lima macam sifat yang mengandung keutamaan: 1.Yang mulia pada sisi Tuhannya karena Allah memberikan padanya sesuatu yang paling berharga yaitu hidayah, dan memerintahkannya untuk menyampaikan hidayah itu kepada para nabi-Nya diteruskan kepada para hamba-Nya. 2.Yang mempunyai kekuatan dalam memelihara Al-Qur'an jauh dari sifat pelupa atau keliru. 3.Yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arasy. 4.Yang ditaati di kalangan malaikat karena kewenangannya. 5.Yang dipercaya untuk menyampaikan wahyu karena terpelihara dari sifat-sifat khianat dan penyelewengan.
20
ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ

Żī quwwatin ‘inda żil-‘arsyi makīn(in).

yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArasy,

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat-ayat ini, Allah menjelaskan objek sumpah yang disebutkan dalam ayat 15-18 di atas, yaitu sesungguhnya apa yang diberitahukan oleh Muhammad saw tentang peristiwa-peristiwa hari Kiamat bukanlah kata-kata seorang dukun atau isapan jempol. Akan tetapi, benar-benar wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril dari Tuhannya. Allah telah menyifati utusan yang membawa Al-Qur'an tersebut, yaitu Malaikat Jibril, dengan lima macam sifat yang mengandung keutamaan: 1.Yang mulia pada sisi Tuhannya karena Allah memberikan padanya sesuatu yang paling berharga yaitu hidayah, dan memerintahkannya untuk menyampaikan hidayah itu kepada para nabi-Nya diteruskan kepada para hamba-Nya. 2.Yang mempunyai kekuatan dalam memelihara Al-Qur'an jauh dari sifat pelupa atau keliru. 3.Yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arasy. 4.Yang ditaati di kalangan malaikat karena kewenangannya. 5.Yang dipercaya untuk menyampaikan wahyu karena terpelihara dari sifat-sifat khianat dan penyelewengan.
21
مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ

Muṭā‘in ṡamma amīn(in).

yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat-ayat ini, Allah menjelaskan objek sumpah yang disebutkan dalam ayat 15-18 di atas, yaitu sesungguhnya apa yang diberitahukan oleh Muhammad saw tentang peristiwa-peristiwa hari Kiamat bukanlah kata-kata seorang dukun atau isapan jempol. Akan tetapi, benar-benar wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril dari Tuhannya. Allah telah menyifati utusan yang membawa Al-Qur'an tersebut, yaitu Malaikat Jibril, dengan lima macam sifat yang mengandung keutamaan: 1.Yang mulia pada sisi Tuhannya karena Allah memberikan padanya sesuatu yang paling berharga yaitu hidayah, dan memerintahkannya untuk menyampaikan hidayah itu kepada para nabi-Nya diteruskan kepada para hamba-Nya. 2.Yang mempunyai kekuatan dalam memelihara Al-Qur'an jauh dari sifat pelupa atau keliru. 3.Yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arasy. 4.Yang ditaati di kalangan malaikat karena kewenangannya. 5.Yang dipercaya untuk menyampaikan wahyu karena terpelihara dari sifat-sifat khianat dan penyelewengan.
22
وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ

Wa mā ṣāḥibukum bimajnūn(in).

Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat ini, Allah menyifati Nabi Muhammad dengan mengatakan bahwa Muhammad itu bukanlah orang gila, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang kafir Mekah. Kalimat "temanmu" dalam ayat ini merupakan alasan untuk menerangkan kedustaan mereka. Sebab, setiap orang akan mengenal tabiat temannya yang sehari-hari bergaul dengannya. Orang-orang Quraisy itu selalu bergaul dengan Nabi Muhammad semenjak beliau masih kecil dan mengetahui kejujuran beliau. Oleh karena itu, mereka memberikan julukan kehormatan kepadanya dengan kata-kata "al-Amin" sebelum beliau menjadi nabi. Beliau tidak pernah berdusta, menyalahi janji, atau berkhianat, sehingga apa-apa yang dituduhkan kepada Nabi Muhammad itu tentang sifat gila, tukang sihir, atau pendusta adalah bohong semata.
23
وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ

Wa laqad ra'āhu bil-ufuqil-mubīn(i).

Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.

📖 Baca Tafsir
Nabi Muhammad pernah melihat Jibril dalam bentuk yang asli dua kali dalam hidupnya. Pertama, ketika beliau berada di Gua Hira sebelum turunnya Surah al-Muddatstsir, dan kedua, ketika beliau mi'raj ke langit ketujuh. Firman Allah Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. (an-Najm/53: 13-14)
24
وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ

Wa mā huwa ‘alal-gaibi biḍanīn(in).

Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.

📖 Baca Tafsir
Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang bakhil dalam menyampaikan seluruh wahyu yang disampaikan malaikat Jibril kepadanya. Di samping itu, beliau adalah seorang yang sangat dipercaya karena tidak pernah mengubah wahyu walaupun satu huruf dengan ucapannya sendiri.
25
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ

Wa mā huwa biqauli syaiṭānir rajīm(in).

(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa Al-Qur'an bukanlah perkataan setan yang terkutuk, dan bukanlah perkataan yang diletakkan oleh setan di atas lidah Muhammad ketika mengganggu akalnya seperti yang dituduhkan oleh orang Quraisy. Muhammad sudah terkenal sejak kecilnya dengan pikiran yang sehat dan tidak pernah berbuat khianat. Oleh karena itu, apa yang diterangkan oleh Muhammad tentang berita akhirat, surga, dan neraka bukanlah perkataan setan.
26
فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ

Fa aina tażhabūn(a).

Maka, ke manakah kamu akan pergi?

📖 Baca Tafsir
Kemudian Allah menerangkan bahwa orang-orang Quraisy itu telah sesat, jauh dari jalan kebenaran, dan tidak mengetahui jalan kebijaksanaan, sehingga Allah bertanya kepada mereka, "Maka ke manakah kamu akan pergi?" Maksudnya ialah sesudah diterangkan bahwa Al-Qur'an itu benar-benar datang dari Allah dan di dalamnya terdapat pelajaran dan petunjuk yang membimbing manusia ke jalan yang lurus, ditanyakan kepada orang-orang kafir itu, "Jalan manakah yang akan kamu tempuh lagi?"
27
اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ

In huwa illā żikrul lil-‘ālamīn(a).

(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam,

📖 Baca Tafsir
Kemudian Allah menyatakan bahwa Al-Qur'an itu tiada lain hanya peringatan bagi semesta alam, bagi mereka yang mempunyai hati cenderung kepada kebaikan. Namun demikian, tidak semua manusia dapat mengambil manfaat dari Al-Qur'an ini. Yang mengambil manfaat ialah siapa yang mau menempuh jalan yang lurus. Adapun orang yang menyimpang dari jalan itu, maka ia tidak dapat mengambil manfaat dari peringatan Al-Qur'an.
28
لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ

Liman syā'a minkum ay yastaqīm(a).

(yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.

📖 Baca Tafsir
Kemudian Allah menyatakan bahwa Al-Qur'an itu tiada lain hanya peringatan bagi semesta alam, bagi mereka yang mempunyai hati cenderung kepada kebaikan. Namun demikian, tidak semua manusia dapat mengambil manfaat dari Al-Qur'an ini. Yang mengambil manfaat ialah siapa yang mau menempuh jalan yang lurus. Adapun orang yang menyimpang dari jalan itu, maka ia tidak dapat mengambil manfaat dari peringatan Al-Qur'an.
29
وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ

Wa mā tasyā'ūna illā ay yasyā'allāhu rabbul-‘ālamīn(a).

Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

📖 Baca Tafsir
Dalam ayat ini, Allah mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak sendiri untuk berbuat sesuatu yang dikehendakinya bilamana tidak sesuai dengan kehendak Allah.